Menjadi Tamu yang Beradab: Menghormati Tanah, Budaya, dan Marwah Melayu Kepulauan Riau
(Foto: Tim SBP mengisi selingan acara pada pertemuan buka puasa bersama Yafna Care, 2023)
Oleh: Ahmad Azroi, S.Sos.,M.M.
Kepulauan Riau sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang terbuka bagi siapa saja. Letaknya yang berada di jalur pelayaran internasional menjadikan daerah ini sebagai ruang pertemuan berbagai bangsa, suku, bahasa, dan budaya. Orang Melayu tumbuh dengan tradisi menerima tamu, menjalin persahabatan, serta membangun kehidupan yang harmonis dengan siapa pun yang datang untuk mencari penghidupan. Keterbukaan tersebut bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari watak masyarakat Melayu yang telah terbentuk selama berabad-abad.
Di tengah keberagaman itu, ada satu prinsip yang tidak pernah berubah, yakni setiap orang yang datang memiliki kewajiban menghormati adat, budaya, dan masyarakat tempat ia berpijak. Pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" bukan sekadar ungkapan, melainkan pedoman hidup yang mengajarkan bahwa menghargai budaya setempat adalah bentuk kedewasaan dan adab. Perbedaan suku, agama, maupun latar belakang tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan apabila dilandasi rasa hormat dan saling menjaga kehormatan.
Belakangan ini, masyarakat Kepulauan Riau dihadapkan pada sebuah peristiwa yang memicu keprihatinan publik, yakni beredarnya ucapan yang dinilai menghina masyarakat Melayu dalam sebuah perselisihan di Batam. Terlepas dari proses hukum maupun penyelesaian yang sedang berjalan, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ucapan yang merendahkan identitas suatu suku atau budaya dapat melukai perasaan banyak orang dan berpotensi merusak harmoni sosial yang telah dibangun bersama. Persoalan seperti ini semestinya menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih bijaksana dalam bertutur dan bertindak.
Masyarakat Melayu tidak pernah menutup pintu bagi pendatang. Justru perkembangan Batam sebagai kota industri, perdagangan, dan jasa merupakan bukti nyata bahwa berbagai suku bangsa dapat hidup, bekerja, dan berkembang bersama di tanah Melayu. Keberhasilan Batam tidak lahir dari dominasi satu kelompok, melainkan dari semangat kebersamaan yang dibangun di atas penghormatan terhadap budaya lokal sebagai identitas daerah. Karena itu, menjaga hubungan yang harmonis menjadi tanggung jawab seluruh warga tanpa memandang asal-usulnya.
Dalam pandangan budaya Melayu, keramahan bukanlah tanda kelemahan. Orang Melayu mengedepankan kesantunan dalam berbicara, musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, serta menghargai sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan. Akan tetapi, keramahan itu berdiri di atas marwah. Marwah adalah harga diri, kehormatan, dan martabat yang harus dijaga. Menghormati marwah Melayu bukan berarti mengistimewakan satu suku di atas yang lain, melainkan menghormati identitas masyarakat yang menjadi bagian dari sejarah dan akar budaya Kepulauan Riau.
Nilai tersebut telah lama ditegaskan oleh pujangga besar Melayu, Raja Ali Haji, melalui Gurindam Dua Belas. Salah satu petuahnya berbunyi, "Apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya faedah." Nasihat ini mengingatkan bahwa tutur kata mencerminkan budi pekerti. Lisan yang dijaga akan melahirkan persahabatan, sedangkan ucapan yang penuh penghinaan hanya akan menimbulkan permusuhan. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Kepulauan Riau, kebijaksanaan dalam berbicara menjadi salah satu kunci utama menjaga persatuan.
Sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia, Kepulauan Riau membutuhkan semangat saling menghormati yang terus dipelihara. Pendatang memiliki hak yang sama untuk bekerja, berusaha, dan membangun masa depan di negeri ini. Pada saat yang sama, menghargai adat, budaya, bahasa, dan marwah Melayu merupakan bentuk penghormatan kepada tanah yang telah memberikan ruang kehidupan bagi semua. Kehidupan yang damai hanya dapat terwujud apabila hak dan kewajiban berjalan secara seimbang.
Sudah saatnya setiap peristiwa yang berpotensi memecah belah masyarakat dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan. Melayu mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari asal sukunya, melainkan dari adab dan akhlaknya. Menjadi tamu yang beradab berarti hadir dengan sikap menghormati, menjaga tutur kata, serta ikut merawat harmoni di tempat yang menjadi rumah bersama. Dengan semangat itulah Kepulauan Riau akan tetap menjadi negeri yang ramah, bermartabat, dan kokoh dalam keberagamannya.
(AHM) Dibaca 16 Kali

Ahmad Azroi, S.Sos., M.M.
Ketua Yayasan
Sekapur Sirih
Unit Yayasan
Olce Bimbel
Orca Team
Sanggar Budak Pulau
Yafna Consulting
Yafna Care
Orca Delicious PantryBerita Terbaru
-
Rilis: 14 Juli 2026 | Dilihat: 53
Karena Setiap Anak Berhak Mendapatkan Kesempatan Belajar Terbaik: Kelas OLCE Hampir Penuh -
Rilis: 09 Juli 2026 | Dilihat: 17
Menjadi Tamu yang Beradab: Menghormati Tanah, Budaya, dan Marwah Melayu Kepulauan Riau -
Rilis: 04 Juli 2026 | Dilihat: 25
Pemuda dan Kepemimpinan Berbasis Nilai: Mengapa Karakter Lebih Penting dari Popularitas -
Rilis: 30 Juni 2026 | Dilihat: 72
OLCE Buka Pendaftaran Tahun Ajaran Baru: Belajar Dengan Bahagia, Bertumbuh dengan Prestasi -
Rilis: 24 Juni 2026 | Dilihat: 82
Mengapresiasi Usaha Kecil untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anak
Total Kunjungan Kunjungan Sekarang Sedang Online
+
Tim Profesional File Publikasi Unit Yayasan |
