19 Juni 2026     Berita & Opini   

Faridah binti HM. Yusuf (in Memoriam): Jejak Kesabaran Menuju Keabadian


Faridah binti HM. Yusuf (in Memoriam): Jejak Kesabaran Menuju Keabadian
www.yafna.or.id

Delapan Pekan Kepergian yang Masih Terasa

Hari ini genap delapan pekan sejak ibunda kami, Faridah binti HM. Yusuf, dipanggil menghadap Allah SWT pada Jumat, 24 April 2026 pukul 13.40 WIB. Waktu berjalan sebagaimana mestinya, tetapi rasa kehilangan itu masih menetap di hati. Ada kalanya kami masih tanpa sadar ingin menghubungi beliau; video call, ingin mendengar suara beliau, atau sekadar ingin mendengar nasihat-nasihat beliau yang dulu sering kami dengar.

Kepergian seorang ibu tidak sama dengan kehilangan yang lain. Ibu adalah tempat pulang pertama bagi anak-anaknya. Ketika beliau masih ada, kehadirannya terasa begitu biasa. Ketika beliau telah tiada, barulah terasa betapa besar ruang yang selama ini diisi oleh kasih sayang, perhatian, doa, dan pengorbanannya.

Tulisan ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup. Tulisan ini adalah ungkapan cinta dan penghormatan kepada seorang perempuan sederhana yang telah menjalani hidup dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan keyakinan kepada Allah. Kami ingin mengenang beliau sebagaimana adanya: seorang anak, seorang saudara, seorang istri, seorang ibu, dan seorang nenek yang meninggalkan jejak kebaikan bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Masa Kecil dan Keluarga yang Membentuk Karakter

Faridah binti HM. Yusuf lahir pada 16 Juni 1952 di Batupanjang, Pulau Rupat. Beliau lahir di tengah keluarga yang sederhana tetapi kaya akan nilai-nilai agama, pendidikan, dan kerja keras. Seorang perempuan Melayu yang tumbuh dalam tradisi ilmu, agama, kesederhanaan, dan keteguhan hati.

Ayah beliau, HM. Yusuf bin Hamid, dikenal sebagai seorang guru madrasah yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan Islam. Beliau termasuk tokoh yang ikut merintis dan mendirikan lembaga pendidikan agama di Batupanjang, di antaranya MDA Ar-Ridho dan MTs Ar-Ridho yang kemudian berkembang menjadi MTsN 5 Batupanjang. Dari sosok ayahnya, Faridah kecil belajar tentang ilmu, ketekunan, dan pentingnya mengabdi kepada masyarakat.

Ibunda beliau, Hj. Maryam binti Usman, adalah perempuan tangguh yang memiliki banyak keterampilan. Beliau pandai berkebun, mampu bertukang, rajin bekerja, dan sangat menjaga kebersihan. Dalam berbagai kesempatan, Faridah sering menceritakan bagaimana ibunya mampu mengurus keluarga dengan penuh disiplin dan keteladanan.

Faridah merupakan salah satu dari enam bersaudara. Kakak-kakaknya adalah Fuad dan Taufiq, sedangkan adik-adiknya adalah Sayyidah, Mardiyah, dan Ahmad Taureq. Seiring perjalanan waktu, satu per satu saudara beliau telah berpulang ke rahmatullah. Hingga hari ini, hanya adik bungsunya, Ahmad Taureq, yang masih hidup.

Masa kecil beliau berlangsung di lingkungan kampung yang sederhana. Beliau sering bercerita tentang permainan rakyat yang menjadi bagian dari kehidupan anak-anak pada masa itu. Beliau dikenal lincah, cerdas, dan mudah bergaul. Di sekolah, beliau memiliki kemampuan berhitung yang sangat baik. Matematika menjadi salah satu pelajaran yang paling beliau sukai.

Selain itu, beliau juga memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an yang baik. Kecintaannya kepada Al-Qur'an membuat beliau pernah meraih prestasi dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat kampung ketika masih muda.

Salah satu cerita yang paling sering beliau kenang adalah ketika duduk di bangku kelas lima sekolah dasar pada masa terjadinya peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Beliau pernah menceritakan suasana yang penuh ketegangan saat itu. Bahkan wali kelasnya disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan organisasi underbow dan menghilang setelah peristiwa tersebut. Kisah itu menjadi salah satu kenangan sejarah yang beliau alami langsung semasa kecil.

Menjadi Istri Pelaut dan Ibu dari Sebelas Anak

Perjalanan hidup membawa Faridah dipertemukan dengan Bakhtiar bin Yatim, seorang lelaki yang kehidupannya sangat dekat dengan laut. Sejak muda, suaminya bekerja sebagai pelaut yang mengarungi berbagai perairan di sekitar Selat Malaka.

Sejak tahun 1967 sd. 1970-an, beliau berlayar ke Singapura menggunakan perahu layar. Pada dekade 1980-an, beliau nakhoda kapal pergi-pulang ke Malaysia. Memasuki tahun 1990-an hingga awal 2000-an, aktivitas pelayaran dilakukan ke Batam dan Port Klang Malaysia. Setelah memasuki masa pensiun, beliau membuka usaha toko kelontong yang dikelola bersama keluarga.

Kehidupan sebagai keluarga pelaut bukanlah kehidupan yang mudah. Ada banyak masa ketika suami harus berlayar jauh meninggalkan keluarga demi mencari nafkah. Di tengah keadaan tersebut, Faridah memegang peran besar dalam menjaga rumah tangga dan membesarkan anak-anak. Beliau menjadi pusat kekuatan keluarga ketika suaminya berada di laut. Beliau mengurus rumah, mendidik anak-anak, menjaga hubungan keluarga, sekaligus memastikan kehidupan tetap berjalan dengan baik.

Selain menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga, beliau juga ikut membantu perekonomian keluarga. Beliau mengelola usaha toko kelontong dan pernah membuka toko di pasar selama kurang lebih sepuluh tahun. Dari pagi hingga petang beliau melayani pembeli, kemudian kembali ke rumah untuk mengurus keluarga. Rutinitas itu dijalani tanpa banyak keluhan. Beliau memahami bahwa kehidupan yang baik dibangun melalui kerja keras, kesabaran, dan kejujuran.

Allah menganugerahkan sebelas orang anak kepada pasangan ini. Tiga di antaranya dipanggil Allah ketika masih bayi, yaitu Fadlah, Firdaus, dan Aisyah. Delapan anak lainnya tumbuh hingga dewasa, yaitu Agusfatina, Betti Fariati, Zaki Mubaraq, Markisa Dahlia, Ahmad Azroi, Idris Syafii, Ainul Hayati, dan Umul Sakinah.

Membesarkan banyak anak tentu menghadirkan berbagai tantangan. Ada masa-masa sulit, ada masa penuh perjuangan, ada pula masa kebahagiaan yang menjadi penghibur. Semua itu dijalani beliau dengan kesabaran yang luar biasa. Beliau tidak pernah berhenti mendoakan anak-anaknya dan selalu berusaha menjadi tempat bertanya serta tempat pulang bagi keluarga.

Di rumah, beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat pandai memasak. Bagi anak-anak dan cucunya, masakan beliau memiliki cita rasa yang khas dan sulit ditiru. Beliau memahami takaran bumbu dengan sangat baik. Setiap masakan yang dihidangkan terasa pas, seimbang, dan penuh rasa. Banyak anggota keluarga yang mencoba mengikuti resep beliau, tetapi selalu muncul kalimat yang sama ketika mengenang masakan itu: "Rasanya tetap tidak sama dengan masakan Mak."

Memasak bagi beliau bukan sekadar pekerjaan rumah tangga. Memasak adalah cara beliau menunjukkan kasih sayang. Melalui hidangan yang disiapkan setiap hari, beliau merawat keluarganya dengan cinta yang sederhana tetapi mendalam.

Selama puluhan tahun menjalani kehidupan rumah tangga, beliau dan suaminya melewati berbagai fase kehidupan bersama. Dari masa membesarkan anak-anak, menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi, hingga menyaksikan anak-anak tumbuh dewasa dan membangun keluarga masing-masing. Kehidupan mereka tidak selalu mudah, tetapi dijalani dengan kesetiaan, kerja keras, dan kebersamaan yang menjadi fondasi keluarga hingga akhir hayat.

Karakter dan Nasihat yang Menjadi Pegangan Hidup

Bagi anak-anaknya, Faridah bukan hanya seorang ibu. Beliau adalah guru kehidupan.

Salah satu hal yang paling membekas adalah nasihat-nasihat beliau yang sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Beliau selalu mengingatkan agar anak-anaknya bersabar dalam berjuang. Beliau mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar jika dijalani dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah.

Beliau juga sering mengingatkan agar menjaga hak dan perasaan orang lain. Dalam pandangan beliau, keberhasilan seseorang tidak boleh dibangun di atas penderitaan orang lain. Menghormati sesama, menjaga hubungan baik, dan tidak menyakiti hati orang lain adalah bagian dari akhlak yang harus dijaga.

Salah satu prinsip yang sangat kuat dalam diri beliau adalah menjaga harga diri dan kemandirian. Ketika anak-anak masih kecil, beliau sangat melarang mereka makan di rumah orang lain ketika sedang bermain. Larangan itu disampaikan dengan tegas dan berulang kali. Bukan karena beliau tidak menghargai kebaikan orang lain, melainkan karena beliau ingin menanamkan rasa hormat kepada diri sendiri dan membentuk pribadi yang tidak bergantung kepada orang lain.

Beliau sering mengingatkan bahwa seseorang harus berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sebelum meminta bantuan kepada orang lain. Jangan membiasakan diri hidup dari belas kasihan orang lain. Jangan mudah menjadi beban bagi sesama. Bagi beliau, harga diri bukanlah kesombongan. Harga diri adalah kemampuan untuk berdiri di atas usaha sendiri, bekerja dengan jujur, dan tidak menggantungkan kehidupan kepada orang lain selama masih mampu berikhtiar. Nilai itulah yang kemudian melekat kuat dalam cara beliau mendidik anak-anaknya.

Beliau kami kenal sangat pandai menjaga hati orang lain. Dalam menghadapi persoalan keluarga, beliau jarang tergesa-gesa memberi penilaian. Ketika anak-anak datang membawa masalah, beliau lebih banyak mendengar terlebih dahulu. Beliau membiarkan seseorang menyampaikan seluruh isi hatinya sebelum kemudian memberikan nasihat atau pandangan. Karena itulah, banyak anak-anaknya merasa nyaman menjadikan beliau tempat bercerita.

Setiap langkah dan ucapan beliau selalu dipertimbangkan dengan hati-hati. Beliau memahami bahwa sebuah perkataan dapat menguatkan seseorang, tetapi juga dapat melukai hati jika tidak dijaga dengan baik. Kebijaksanaan itu lahir dari pengalaman hidup yang panjang serta keinginan untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama.

Nasihat beliau yang paling sering diingat keluarga adalah kalimat:

"Kalau Allah nak berkehendak, maka sesuatu yang tak masuk akal pun bisa Allah jadikan."

Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Kalimat itu adalah keyakinan yang beliau pegang sepanjang hidup. Dalam berbagai ujian dan kesulitan yang beliau hadapi, keyakinan kepada pertolongan Allah tidak pernah hilang.

Di balik keteguhan itu, beliau juga memiliki hati yang sangat lembut terhadap keluarganya. Kepergian saudara-saudaranya merupakan ujian yang sangat membekas dalam hidup beliau. Abangnya, Fuad dan Taufiq, serta adik-adiknya, Sayyidah dan Mardiyah, satu per satu berpulang mendahului beliau. Kesedihan itu tidak pernah benar-benar hilang. Beliau sering mengenang mereka dalam cerita-cerita yang disampaikan kepada anak-anaknya. Dari cerita itu terlihat betapa besar rasa kasih sayang beliau kepada saudara-saudaranya.

Kecintaan beliau kepada keluarga juga tampak dalam cara beliau menantikan kepulangan anak-anak dan cucu-cucunya. Setiap musim mudik Lebaran atau libur sekolah selalu menjadi momen yang beliau tunggu. Ada kebahagiaan tersendiri ketika rumah kembali ramai oleh suara anak dan cucu yang datang berkunjung.

Bahkan ketika kondisi kesehatannya telah melemah pada bulan-bulan terakhir kehidupannya, senyum beliau masih terlihat setiap kali melihat cucu-cucunya, meskipun hanya melalui panggilan video. Tubuh beliau mungkin semakin lemah, tetapi kasih sayang seorang ibu dan nenek tidak pernah berkurang.

Umrah yang Menjadi Kenangan Tak Terlupakan

Di antara sekian banyak pengalaman hidup yang beliau lalui, perjalanan umrah pada 24 Oktober hingga 6 November 2019 menjadi salah satu kenangan yang paling membahagiakan.

Bersama suaminya dan salah satu anaknya Ahmad Azroi, beliau memulai perjalanan dari kampung menuju Pekanbaru, kemudian terbang ke Medan dan melanjutkan penerbangan ke Madinah. Seakan tak percaya saat kakinya menginjak tanah Madinah, dia bertanya kepada Azroi:

“Betul tak ni Nak kita sampai di Madinah, jangan-jangan kita salah turun”

Begitulah sausana hati beliau saat itu, “macam mimpi” katanya lagi.

Selama lima hari di Madinah, beliau merasakan kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Beliau dapat berziarah ke makam Rasulullah SAW, melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi, serta merasakan suasana kota yang selama ini hanya beliau dengar melalui cerita dan bacaan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Makkah melalui Bir Ali untuk mengambil miqat. Di kota suci itu beliau kembali menghabiskan beberapa hari yang sangat berkesan. Salah satu pengalaman yang paling beliau syukuri adalah kesempatan mengusap Ka'bah secara langsung.

Setelah kembali ke tanah air, setiap kali beliau menceritakan pengalaman umrah tersebut, semangat beliau selalu terlihat berbeda. Ceritanya begitu rinci, penuh detail, dan disampaikan dengan perasaan yang mendalam. Seolah-olah setiap kenangan itu masih hidup dalam hati beliau.

Dari sekian banyak cerita yang beliau sampaikan setelah pulang dari Tanah Suci, ada beberapa pengalaman yang selalu beliau ceritakan berulang kali. Beliau sangat bersyukur dapat berziarah ke makam Rasulullah SAW, melaksanakan salat di Raudhah, serta memperoleh kesempatan mengusap Ka'bah secara langsung. Setiap kali mengenang momen tersebut, raut wajah beliau selalu berubah menjadi lebih cerah. Semangat dalam suaranya menunjukkan betapa dalam kesan yang ditinggalkan oleh perjalanan itu.

Bagi keluarga, perjalanan umrah itu bukan sekadar perjalanan ibadah. Perjalanan itu menjadi hadiah indah dari Allah yang akan selalu dikenang sepanjang masa.

Ujian Sakit yang Dijalani dengan Kesabaran

Sejak sekitar tahun 2004, Faridah mulai mengetahui bahwa dirinya mengidap diabetes. Saat itu beliau sering mengeluhkan tubuh yang mudah lelah dan tidak bertenaga. Setelah menjalani pemeriksaan, diketahui bahwa kadar gula darahnya cukup tinggi.

Sejak saat itu beliau berusaha menjaga pola makan dan kesehatan dengan disiplin. Selama bertahun-tahun penyakit tersebut relatif dapat dikendalikan. Meski demikian, diabetes tetap meninggalkan dampak terhadap kesehatannya. Pada tahun 2018, beliau mengalami gangguan penglihatan akibat katarak yang dipicu oleh komplikasi diabetes. Dengan dukungan keluarga, beliau menjalani operasi penggantian lensa mata di Tanjungpinang. Alhamdulillah, tindakan tersebut berjalan dengan baik dan membantu memperbaiki kualitas penglihatannya. Peristiwa itu menjadi salah satu ujian kesehatan yang berhasil beliau lalui dengan penuh kesabaran sebelum penyakit diabetes kembali menunjukkan dampak yang lebih serius pada tahun-tahun berikutnya.

Memasuki pertengahan tahun 2025, kondisi kesehatan beliau mulai mengalami penurunan yang signifikan. Pada Juli 2025, beliau dibawa berobat ke rumah sakit karena kadar gula darah yang tinggi. Dokter menyarankan perawatan intensif dan terapi insulin, tetapi saat itu beliau belum bersedia menjalani suntikan insulin.

Beberapa bulan kemudian, luka lama di kaki yang telah sembuh puluhan tahun mendadak terbuka kembali. Luka tersebut berkembang menjadi luka diabetes yang sulit sembuh. Berbagai upaya pengobatan dilakukan. Rumah sakit didatangi berulang kali. Tindakan operasi pembersihan jaringan luka dilakukan. Terapi insulin akhirnya dijalani. Perawatan luka dilakukan secara rutin dan maksimal.

Keluarga juga berikhtiar membawa beliau berobat ke berbagai tempat, termasuk ke Bengkalis dan Melaka. Semua usaha dilakukan dengan harapan Allah memberikan kesembuhan. Setiap langkah merupakan bentuk kasih sayang keluarga kepada beliau.

Di tengah sakit yang semakin berat, beliau tetap menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Beliau tidak banyak mengeluh. Beliau menerima setiap proses pengobatan dengan penuh kesabaran dan terus berharap kepada pertolongan Allah.

Hari-Hari Terakhir dan Kepulangan yang Tenang

Awal April 2026 menjadi masa yang semakin berat bagi beliau dan keluarga. Kondisi kesehatan terus menurun sehingga beliau kembali menjalani perawatan di rumah sakit.

Pada 18 April 2026, dokter menyatakan beliau sudah dapat menjalani rawat jalan dan dibawa pulang ke Batupanjang. Keluarga berharap suasana rumah dapat membantu memperbaiki kondisi beliau.

Rencana untuk membawa beliau berobat ke Pekanbaru sempat dipersiapkan. Akan tetapi kondisi fisik beliau semakin lemah. Bahkan pemasangan infus pun sudah sangat sulit dilakukan karena kondisi pembuluh darah yang tidak lagi memungkinkan.

Keluarga terus mendampingi beliau dengan penuh kasih sayang. Doa-doa dipanjatkan. Harapan-harapan tetap dijaga.

Hingga akhirnya pada Jumat, 24 April 2026 pukul 13.40 WIB, Allah SWT memanggil beliau pulang. Beliau menghembuskan napas terakhir di rumahnya di Batupanjang, Pulau Rupat, dikelilingi keluarga yang mencintainya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Setelah berbulan-bulan berjuang melawan sakit, Allah mentakdirkan beliau kembali ke rumah tempat beliau membesarkan anak-anaknya, tempat beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya, dan di sanalah beliau menghembuskan napas terakhir. Seolah perjalanan panjang itu ditutup di tempat yang paling beliau cintai.

Hari itu menjadi hari perpisahan yang berat bagi keluarga. Tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap jiwa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta.

Allah SWT menakdirkan beliau berpulang pada hari Jumat, sebuah hari yang dimuliakan dalam Islam. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan keadaan akhir seseorang hanya berdasarkan waktu wafatnya, karena penilaian terbaik tetap berada di sisi Allah SWT yang Maha Mengetahui segala amal hamba-Nya.

Meski demikian, keluarga memandang hari wafat tersebut sebagai sebuah harapan dan doa. Harapan agar Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Faridah binti HM. Yusuf, mengampuni segala khilafnya, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya dalam golongan hamba-hamba yang memperoleh husnul khatimah dan keridaan-Nya.

Warisan yang Tidak Akan Pernah Hilang

Tidak semua warisan berbentuk harta benda. Ada warisan yang jauh lebih berharga, yaitu nilai-nilai kehidupan.

Faridah binti HM. Yusuf mewariskan kepada anak-anak dan keluarganya arti kesabaran dalam menghadapi ujian, pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, keteguhan dalam berusaha, dan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.

Beliau mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan kerja keras dan kejujuran. Beliau mengajarkan bahwa keluarga harus dijaga dengan kasih sayang. Beliau mengajarkan bahwa doa adalah kekuatan yang tidak pernah boleh ditinggalkan.

Kini beliau telah tiada. Suara beliau tidak lagi terdengar. Langkah beliau tidak lagi terlihat. Akan tetapi nilai-nilai yang beliau tanamkan tetap hidup dalam diri anak-anak, cucu-cucu, dan keluarga yang beliau tinggalkan.

Dua bulan telah berlalu sejak kepergian beliau. Waktu mungkin akan terus berjalan dan perlahan mengurangi kesedihan yang kami rasakan. Akan tetapi, ada hal-hal yang tidak akan pernah hilang: suara nasihat beliau, doa-doa yang pernah beliau panjatkan untuk anak-anaknya, aroma masakan yang memenuhi rumah, senyum saat menyambut kepulangan keluarga, serta keyakinan yang selalu beliau tanamkan bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang paling tepat. Semua itu akan tetap hidup dalam ingatan kami selama hayat masih dikandung badan.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima seluruh amal kebaikannya, melapangkan kuburnya, menjadikannya penghuni surga-Nya, serta mempertemukan kembali keluarga ini kelak dalam keadaan yang penuh kebahagiaan di sisi-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



  (AHM)     Dibaca 144 Kali


Total Kunjungan

Kunjungan Sekarang

Sedang Online

+

Tim Profesional

File Publikasi

Unit Yayasan